Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk pembaca yg tidak seberapa🫠

Dari sekian banyak hal yg bisa di atur kenapa orang-orang memilih untuk mengatur perasaan orang lain? Is it not enough to manage your own feelings? I mean kenapaa repot-repot gitulo?    Okelah kalo cara berpakaianku mungkin, make up atau masih masuk juga kalo sikap. Hal itu masih terlihat oleh mata. But how do you know what's in my heart? Cenayang kah kelean? Okey i am so sorry guys for the opening terlalu emosional. Sebenarnya blog ini tu tempat nyampah aja. Maksud aku nyampah tu tempat aku membuang semua hal yg menumpuk di kepala aku. Karena aku nggak bisa dan tidak terbiasa bercerita aku menumpahkan isi pikiran dan hati ke tulisan. Bisa dibilang blog ini ruang aman dan nyaman aku. Jadi kalo dibawa keluar atau dijadikan pembahasan di real life aku jadi merasa kehilangan tempat aman.  Fyi juga semua isi tulisan ini itu bukan cuma hal yang berasal dari hati aku ada yg aku liat dari lingkungan ada yang aku tonton dan bahkan dari utasan orang lain yg bikin aku berfikir dan ...
Postingan terbaru

Aku dan diriku yg hilang

Halloo, sudah lama tidak membagikan tulisan. Tulisan kali ini mungkin sedikit berbeda, bisa dibilang sedikit curhat kali ya, hehe Jadi akhir-akhir ini aku mungkin sedikit kesepian, sebenarnya rada gimana gitu kalo bilang aku kesepian. Takutnya orang sekitar aku ngebaca ini merasa tidak dianggap kehadirannya, hehe. Dalam fase kesepian aku ini, aku sebenarnya ditemani seseorang. Beneran seseorang, nyata dia hidup tapi dia nggak tau aku hidup. Awalnya aku pikir ini perjalanan fangirl ku yg baru, tapi kali ini rasanya berbeda, ada rasa ketenangan dan rasa aman yg berbeda. Aku bahkan mendiagnosa diri sendiri gila perkara ini, bagaimana bisa merasa tenang dan nyaman hanya melihat foto dan video idolamu sendiri. Menjadi gila di usia 25 tahun terlalu tidak adil rasanya, akhirnya aku mencari dan menganalisis faktor-faktor lain. Akhirnya sampai ke pertanyaan “kapan terakhir kamu merasa nyaman dan aman sebagai diri sendiri Ruhil Fithry?”  Jawabannya mungkin 2 tahun lalu atau mungkin lebih, sa...

Mungkin Alasan Kamu Menginginkan Sesuatu, Adalah Karena di Masa Depan Kamu Sudah Memilikinya

Seutas kalimat yang lewat di media sosialku dan akhir-akhir ini terus berputar di kepalaku: Alasan kamu menginginkan sesuatu karena dimasa depan kamu sudah memilikinya Awalnya, kalimat itu terdengar seperti kata-kata manis yang menenangkan hati.Namun semakin kupikirkan, ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya, semacam percakapan lembut antara logika dan jiwa. Dalam banyak ajaran spiritual, manusia dan semesta dipercaya saling terhubung lewat energi. Setiap keinginan bukanlah kebetulan, tapi panggilan dari masa depan, dari versi dirimu yang sudah hidup di realitas itu. Mungkin itu sebabnya kadang kita menginginkan sesuatu begitu kuat tanpa alasan logis. Seolah hati kita sudah tahu, “ di sana aku akan sampai .” Dalam Islam, aku jadi teringat tentang konsep qadar , tentang segala hal yang sudah tertulis sejak awal. Mungkin, rasa ingin itu adalah cara halus semesta menuntun kita menuju sesuatu yang memang sudah menjadi bagian dari takdir. Bukan kebetulan, tapi isyarat lembut yang menunggu...

Yang Kamu Anggap Tertunda Bisa Jadi Sedang Allah Tata dengan Sempurna

Ada masa-masa dalam hidup ketika segalanya terasa diam. Kita sudah berusaha, sudah berdoa, sudah menunggu tapi hasilnya tetap belum juga datang.Rasanya seperti menatap jam pasir yang tak kunjung habis. Waktu berjalan, tapi tak membawa apa-apa selain tanda tanya. “Kenapa belum juga terjadi?” Namun, seiring waktu aku belajar tidak semua yang tertunda berarti gagal. Kadang, itu hanya cara lembut Allah untuk berkata, “Tunggu sebentar, Aku sedang menata segalanya agar indah saat sampai padamu.” Dalam psikologi, ada konsep gratitude practice yaitu latihan untuk melatih otak agar fokus pada hal-hal yang masih bisa disyukuri, bahkan di tengah ketidakpastian. Syukur bukan sekadar ucapan terima kasih, tapi cara untuk menenangkan sistem saraf, menjaga kewarasan, dan menumbuhkan harapan. Ketika kita belajar bersyukur di masa penantian, kita sebenarnya sedang melatih otak untuk melihat makna di balik jeda. Bukan hanya “kenapa belum,” tapi juga “apa yang sedang aku pelajari dari ini.” Mungkin lew...

Bersyukur Tanpa Membandingkan: Menemukan Nikmat Li Dzhatihi

Kadang aku suka mikir, “Apa cara bersyukur itu harus selalu dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain yang lebih susah?” 🤔 Jawabanku: nggak juga. Dalam psikologi sosial, memang ada konsep yang namanya downward comparison . Artinya, kita merasa lebih beruntung atau lebih baik ketika melihat orang lain yang keadaannya lebih sulit. Secara nggak sadar, itu bikin hati agak lega dan jadi lebih menghargai hidup. Tapi kalau dipikir lagi, kalau syukur kita selalu bergantung pada penderitaan orang lain, rasanya kurang tulus ya. Dalam Islam, ada istilah Li dzhatihi. artinya bersyukur karena nikmat itu sendiri, bukan karena perbandingan. Misalnya, bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi, karena masih punya tenaga buat bangun, atau sekadar bisa menikmati secangkir teh hangat. Jalaluddin Rumi pernah bilang, “ Wear gratitude like a cloak and it will feed every corner of your life.” Jadi, buatku, bersyukur itu lebih indah kalau datang dari kesadaran sendiri, tanpa harus melihat siap...

Semoga Tidak Ada Bekas Luka Seperti Keloid di Hatimu - comforting quote from Korean Drama “Beyond The Bar”

Ada luka yang sembuh, ada pula luka yang meninggalkan bekas. Di tubuh, kita mengenalnya sebagai keloid: tanda yang menonjol, sukar hilang, dan terkadang membuat kita kembali mengingat rasa sakit lama. Hati pun begitu. Kadang ia terluka oleh kehilangan, dikhianati oleh janji, atau dipatahkan oleh kenyataan. Luka di hati memang tak terlihat, tapi jejaknya bisa menetap, sama menyakitkannya seperti bekas luka di kulit. Maka, doa sederhana ini lahir: “ Semoga tidak ada bekas luka seperti keloid di hatimu .” Semoga setiap luka yang pernah singgah di hidupmu tidak menetap sebagai beban. Semoga ia tidak tumbuh menjadi trauma yang sukar hilang, tidak menebal menjadi dinding yang membuatmu takut untuk percaya lagi. Dalam psikologi, ada konsep forgiveness atau pemaafan. Psikolog Robert Enright menyebut pemaafan sebagai “proses melepaskan kemarahan dan dendam, lalu menggantinya dengan niat baik, meski orang yang menyakiti tidak selalu meminta maaf.” Sedangkan Everett Worthington menekankan bahwa m...

Kenopsia: Saat Tempat Bicara Lewat Kesunyiannya

Pernahkah kamu kembali ke tempat yang dulu begitu hidup, tapi kini hanya menyisakan gema langkahmu sendiri? Aku pernah. Dan rasanya… aneh. Bukan sekadar sepi, tapi sepi yang “bercerita”. Itulah kenopsia, kesunyian di tempat yang biasanya ramai, yang terasa lebih lantang daripada keramaian itu sendiri. Dulu, ruang itu penuh tawa. Sekarang, hanya ada gema. Dulu, bangku-bangku itu ditempati orang-orang yang saling berbagi cerita, ambisi, dan mungkin juga cinta diam-diam. Sekarang, mereka tinggal sebagai bayang-bayang yang tak kasat mata, tapi entah kenapa terasa dekat. Kami menyebutnya associative memory , kenangan yang melekat pada tempat. Otak kita menghubungkan ruang fisik dengan emosi tertentu. Itulah mengapa saat kita kembali ke tempat yang dulu kita cintai, otak dan hati seperti menabrak kenyataan bahwa waktu telah berlalu. Aku duduk sebentar, memandangi ruang kosong itu. Bukan karena aku ingin kembali ke masa lalu tapi karena bagian dari diriku masih tertinggal di sana. Mungkin it...