Langsung ke konten utama

Aku dan diriku yg hilang

Halloo, sudah lama tidak membagikan tulisan.

Tulisan kali ini mungkin sedikit berbeda, bisa dibilang sedikit curhat kali ya, hehe

Jadi akhir-akhir ini aku mungkin sedikit kesepian, sebenarnya rada gimana gitu kalo bilang aku kesepian. Takutnya orang sekitar aku ngebaca ini merasa tidak dianggap kehadirannya, hehe.

Dalam fase kesepian aku ini, aku sebenarnya ditemani seseorang. Beneran seseorang, nyata dia hidup tapi dia nggak tau aku hidup.

Awalnya aku pikir ini perjalanan fangirl ku yg baru, tapi kali ini rasanya berbeda, ada rasa ketenangan dan rasa aman yg berbeda. Aku bahkan mendiagnosa diri sendiri gila perkara ini, bagaimana bisa merasa tenang dan nyaman hanya melihat foto dan video idolamu sendiri.

Menjadi gila di usia 25 tahun terlalu tidak adil rasanya, akhirnya aku mencari dan menganalisis faktor-faktor lain. Akhirnya sampai ke pertanyaan “kapan terakhir kamu merasa nyaman dan aman sebagai diri sendiri Ruhil Fithry?” 

Jawabannya mungkin 2 tahun lalu atau mungkin lebih, saat diriku masih menjadi mahasiswa atau mungkin saat itu, saat aku menekan submit pendaftaran S2 dengan penuh keraguan. Atau mungkin waktu itu? Semalam sebelum keberangkatanku pulang ke lombok, aku berkeliling Surabaya sendiri tentunya menggunakan beat putih itu, benar-benar keliling dari ujung ke ujung. Aku benar-benar perpisahan dengan diriku sendiri. Benar aku yakin itu benar terakhir kalinya.

 Kini akhirnya aku tersadar ini bukan kesepian atau kegilaan, ini rasa kosong karena kehilangan tujuan.

Sosok yang selalu aku bayangkan nyata menemaniku itu bukan menggambarkan seseorang tapi itu merupakan diriku di masa lalu yang masih mempunyai tujuan dan harapan.

Sekarang tujuan itu telah hilang, otakku akhirnya mencari rasa aman pengganti untuk bertahan hidup tanpa aku sadari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur Tanpa Membandingkan: Menemukan Nikmat Li Dzhatihi

Kadang aku suka mikir, “Apa cara bersyukur itu harus selalu dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain yang lebih susah?” 🤔 Jawabanku: nggak juga. Dalam psikologi sosial, memang ada konsep yang namanya downward comparison . Artinya, kita merasa lebih beruntung atau lebih baik ketika melihat orang lain yang keadaannya lebih sulit. Secara nggak sadar, itu bikin hati agak lega dan jadi lebih menghargai hidup. Tapi kalau dipikir lagi, kalau syukur kita selalu bergantung pada penderitaan orang lain, rasanya kurang tulus ya. Dalam Islam, ada istilah Li dzhatihi. artinya bersyukur karena nikmat itu sendiri, bukan karena perbandingan. Misalnya, bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi, karena masih punya tenaga buat bangun, atau sekadar bisa menikmati secangkir teh hangat. Jalaluddin Rumi pernah bilang, “ Wear gratitude like a cloak and it will feed every corner of your life.” Jadi, buatku, bersyukur itu lebih indah kalau datang dari kesadaran sendiri, tanpa harus melihat siap...

helper therapy principle : Aku pulih dalam proses pulihmu

Menyembuhkan Diri Sendiri Melalui Menyembuhkan Orang Lain Ada masa ketika aku merasa begitu kosong. Luka masa lalu masih terasa nyeri, dan pertanyaan-pertanyaan tentang arah hidup terus berdengung di kepala. Tapi anehnya, di tengah ketidakpastian itu, aku justru sering dimintai bantuan oleh orang lain, entah sekadar mendengarkan, memberi saran, atau jadi tempat berkeluh kesah. Lama-lama aku sadar: setiap kali aku membantu orang lain, ada bagian dari diriku yang juga ikut pulih. Dalam psikologi, hal ini dikenal dengan istilah “helper therapy principle” sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Frank Riessman. Teori ini menyatakan bahwa orang yang membantu orang lain juga mendapatkan manfaat psikologis dari proses itu sendiri. Membantu bisa memberi kita rasa bermakna, meningkatkan harga diri, dan memperkuat koneksi sosial yang sering kali justru menjadi sumber kekuatan baru. Lebih dari itu, ketika kita menenangkan orang lain yang mengalami luka serupa dengan kita, secara tak langsung kita se...

Tertinggal dalam Keramaian

Jadi apa yang terjadi sekarang? Semua orang tampak memiliki tujuan, semua orang tampak berjalan, semua orang memenangkan banyak hal. aku terdiam, sendirian Katanya, semua orang memiliki waktunya sendiri, jadi kapan waktu untukku tiba? Pintunya tertutup lagi… Lagi dan lagi…