Langsung ke konten utama

Untuk pembaca yg tidak seberapa🫠

Dari sekian banyak hal yg bisa di atur kenapa orang-orang memilih untuk mengatur perasaan orang lain? Is it not enough to manage your own feelings? I mean kenapaa repot-repot gitulo?  Okelah kalo cara berpakaianku mungkin, make up atau masih masuk juga kalo sikap. Hal itu masih terlihat oleh mata. But how do you know what's in my heart? Cenayang kah kelean?

Okey i am so sorry guys for the opening terlalu emosional. Sebenarnya blog ini tu tempat nyampah aja. Maksud aku nyampah tu tempat aku membuang semua hal yg menumpuk di kepala aku. Karena aku nggak bisa dan tidak terbiasa bercerita aku menumpahkan isi pikiran dan hati ke tulisan.

Bisa dibilang blog ini ruang aman dan nyaman aku. Jadi kalo dibawa keluar atau dijadikan pembahasan di real life aku jadi merasa kehilangan tempat aman. 

Fyi juga semua isi tulisan ini itu bukan cuma hal yang berasal dari hati aku ada yg aku liat dari lingkungan ada yang aku tonton dan bahkan dari utasan orang lain yg bikin aku berfikir dan menumbuhkan opini sendiri. Maksudku daripada itu pikiran numpuk di kepala malah bikin gabisa tidur ya di tulis aja.

Dan ya jadilah ini blog (sebenernya sebagian kecil dari tulisan2 ngalanturku)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur Tanpa Membandingkan: Menemukan Nikmat Li Dzhatihi

Kadang aku suka mikir, “Apa cara bersyukur itu harus selalu dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain yang lebih susah?” šŸ¤” Jawabanku: nggak juga. Dalam psikologi sosial, memang ada konsep yang namanya downward comparison . Artinya, kita merasa lebih beruntung atau lebih baik ketika melihat orang lain yang keadaannya lebih sulit. Secara nggak sadar, itu bikin hati agak lega dan jadi lebih menghargai hidup. Tapi kalau dipikir lagi, kalau syukur kita selalu bergantung pada penderitaan orang lain, rasanya kurang tulus ya. Dalam Islam, ada istilah Li dzhatihi. artinya bersyukur karena nikmat itu sendiri, bukan karena perbandingan. Misalnya, bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi, karena masih punya tenaga buat bangun, atau sekadar bisa menikmati secangkir teh hangat. Jalaluddin Rumi pernah bilang, “ Wear gratitude like a cloak and it will feed every corner of your life.” Jadi, buatku, bersyukur itu lebih indah kalau datang dari kesadaran sendiri, tanpa harus melihat siap...

helper therapy principle : Aku pulih dalam proses pulihmu

Menyembuhkan Diri Sendiri Melalui Menyembuhkan Orang Lain Ada masa ketika aku merasa begitu kosong. Luka masa lalu masih terasa nyeri, dan pertanyaan-pertanyaan tentang arah hidup terus berdengung di kepala. Tapi anehnya, di tengah ketidakpastian itu, aku justru sering dimintai bantuan oleh orang lain, entah sekadar mendengarkan, memberi saran, atau jadi tempat berkeluh kesah. Lama-lama aku sadar: setiap kali aku membantu orang lain, ada bagian dari diriku yang juga ikut pulih. Dalam psikologi, hal ini dikenal dengan istilah “helper therapy principle” sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Frank Riessman. Teori ini menyatakan bahwa orang yang membantu orang lain juga mendapatkan manfaat psikologis dari proses itu sendiri. Membantu bisa memberi kita rasa bermakna, meningkatkan harga diri, dan memperkuat koneksi sosial yang sering kali justru menjadi sumber kekuatan baru. Lebih dari itu, ketika kita menenangkan orang lain yang mengalami luka serupa dengan kita, secara tak langsung kita se...

Tertinggal dalam Keramaian

Jadi apa yang terjadi sekarang? Semua orang tampak memiliki tujuan, semua orang tampak berjalan, semua orang memenangkan banyak hal. aku terdiam, sendirian Katanya, semua orang memiliki waktunya sendiri, jadi kapan waktu untukku tiba? Pintunya tertutup lagi… Lagi dan lagi…