Semoga Tidak Ada Bekas Luka Seperti Keloid di Hatimu - comforting quote from Korean Drama “Beyond The Bar”
Ada luka yang sembuh, ada pula luka yang meninggalkan bekas.
Di tubuh, kita mengenalnya sebagai keloid: tanda yang menonjol, sukar hilang, dan terkadang membuat kita kembali mengingat rasa sakit lama.
Hati pun begitu.
Kadang ia terluka oleh kehilangan, dikhianati oleh janji, atau dipatahkan oleh kenyataan. Luka di hati memang tak terlihat, tapi jejaknya bisa menetap, sama menyakitkannya seperti bekas luka di kulit.
Maka, doa sederhana ini lahir:
“Semoga tidak ada bekas luka seperti keloid di hatimu.”
Semoga setiap luka yang pernah singgah di hidupmu tidak menetap sebagai beban. Semoga ia tidak tumbuh menjadi trauma yang sukar hilang, tidak menebal menjadi dinding yang membuatmu takut untuk percaya lagi.
Dalam psikologi, ada konsep forgiveness atau pemaafan. Psikolog Robert Enright menyebut pemaafan sebagai “proses melepaskan kemarahan dan dendam, lalu menggantinya dengan niat baik, meski orang yang menyakiti tidak selalu meminta maaf.” Sedangkan Everett Worthington menekankan bahwa memaafkan adalah jalan menuju penyembuhan batin, karena dengan memaafkan, kita membebaskan diri dari beban emosional yang berulang kali melukai.
Forgiveness bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan. Ia adalah keputusan untuk berdamai dengan perasaan kita sendiri, agar luka tidak berubah menjadi keloid yang membekas selamanya.
Biarlah luka hanya singgah sementara, lalu pergi bersama waktu.
Biarlah ia mengajarkanmu tentang rapuh dan kuat, tentang kehilangan dan bertahan.
Dan setelah itu, semoga yang tersisa hanyalah ruang untuk mencintai lagi, dengan hati yang tetap lembut dan penuh harapan.
Komentar
Posting Komentar