Dari kecil, aku diajari mencintai. Mencintai keluarga. Mencintai sahabat. Mencintai Tuhan. Bahkan mencintai hal-hal kecil seperti binatang peliharaan, langit sore, atau bunga liar di pinggir jalan. Tapi tidak pernah ada satu bab pun dalam hidupku yang mengajarkan: bagaimana cara mencintai diri sendiri. Aku tumbuh dengan standar yang tidak pernah bisa kuraih. Harus menjadi yang baik, yang manis, yang bisa diandalkan. Harus kuat, tidak boleh marah, apalagi menangis di depan orang lain. Maka setiap kali aku merasa lelah, kecewa, atau sedih… aku menyembunyikannya. Kadang bahkan dari diriku sendiri. Aku begitu mudah berempati pada orang lain. Aku bisa menangis mendengar cerita orang yang bahkan tak kukenal. Aku bisa bersedia begadang hanya untuk mendengarkan teman bicara tentang luka hatinya. Tapi saat aku sendiri merasa kosong, aku malah menyuruh diriku diam. “Diamlah, yang kau rasakan bukan apa-apa ” kataku pada diri sendiri. Dan hari ini, aku duduk dan bertanya: Dari segala hal yang aku ...