Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Dari Segala Hal yang Aku Sayangi, Kenapa Aku Tak Menyayangi Diriku Sendiri?

Dari kecil, aku diajari mencintai. Mencintai keluarga. Mencintai sahabat. Mencintai Tuhan. Bahkan mencintai hal-hal kecil seperti binatang peliharaan, langit sore, atau bunga liar di pinggir jalan. Tapi tidak pernah ada satu bab pun dalam hidupku yang mengajarkan: bagaimana cara mencintai diri sendiri. Aku tumbuh dengan standar yang tidak pernah bisa kuraih. Harus menjadi yang baik, yang manis, yang bisa diandalkan. Harus kuat, tidak boleh marah, apalagi menangis di depan orang lain. Maka setiap kali aku merasa lelah, kecewa, atau sedih… aku menyembunyikannya. Kadang bahkan dari diriku sendiri. Aku begitu mudah berempati pada orang lain. Aku bisa menangis mendengar cerita orang yang bahkan tak kukenal. Aku bisa bersedia begadang hanya untuk mendengarkan teman bicara tentang luka hatinya. Tapi saat aku sendiri merasa kosong, aku malah menyuruh diriku diam. “Diamlah, yang kau rasakan bukan apa-apa ” kataku pada diri sendiri. Dan hari ini, aku duduk dan bertanya: Dari segala hal yang aku ...

Bertahan adalah Keberanianmu

Kadang, hidup memang terlihat kacau. Emosi yang menumpuk, pikiran yang berantakan, dan tubuh yang terus memaksa diri untuk tetap bergerak, padahal ingin sekali menyerah. Dalam psikologi, kita mengenal istilah coping mechanism – cara otak dan hati kita bertahan saat semua terasa terlalu berat untuk ditanggung. Ada yang melampiaskan dengan menangis, ada yang tidur seharian, ada yang menulis ratusan kata tanpa suara, ada juga yang tetap tersenyum di depan orang lain meski hancur di dalam. Apa pun itu, meskipun tampak menyedihkan dan berantakan, semuanya tetaplah sebuah bentuk keberanian. Kau tak harus menjadi kuat seperti yang orang lain harapkan. Kau hanya perlu menjadi cukup kuat untuk dirimu sendiri hari ini. Itu sudah keberanian yang luar biasa. Keberanian untuk menghadapi realita, menghadapi trauma, menghadapi hari esok meskipun kau belum yakin akan seperti apa wujudnya. Setiap orang memiliki daya lenting psikologisnya sendiri – resilience – cara bangkit yang berbeda-beda. Jangan ban...

Kenapa Aku Lebih Enjoy Berbincang dengan Orang Tak Dikenal?

Lucu, ya. Kadang aku merasa lebih nyaman bercerita pada orang yang bahkan tak tahu namaku. Lebih enjoy ngobrol dengan seseorang yang kutemui di perjalanan, di antrean, atau di tempat asing yang tak pernah kupijak sebelumnya. Padahal, aku punya orang-orang terdekat. Keluarga, sahabat, orang yang selalu ada dalam hidupku. Tapi kenapa justru dengan mereka, aku sering menahan cerita? Mungkin karena orang asing tidak memiliki ekspektasi tentang siapa aku. Mereka tak tahu bagaimana aku di rumah, bagaimana sikapku sehari-hari, atau bagaimana aku menahan tangis diam-diam. Dengan mereka, aku bisa bercerita tanpa takut dinilai sebagai pribadi lemah atau aneh. Tanpa takut mereka mengaitkan ceritaku dengan sifatku yang lain. Rasanya aman. Aku juga tidak perlu takut membebani mereka. Karena aku tahu, setelah perbincangan ini, mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Tidak ada rasa bersalah karena sudah menumpahkan beban hati pada seseorang yang harus melihatku setiap hari. Kata psikologi, ini d...

Kenapa Perkataan Buruk Lebih Mudah Diucapkan?

Ada ribuan kata indah di dunia ini. Kata-kata yang menenangkan, menguatkan, menghibur. Tapi entah kenapa, manusia sering memilih berkata buruk. Kata yang melukai, mengecilkan, bahkan menghancurkan. Aku pernah diam lama, bertanya pada diriku sendiri, “Mengapa begitu sulit bagi manusia untuk memilih kata yang baik?” Padahal kita tahu, kata adalah senjata. Ia bisa membunuh semangat orang lain tanpa meninggalkan jejak darah. Dan kupikir, mungkin ini tentang psikologi pertahanan diri. Ketika kita merasa tidak aman, takut kalah, takut dianggap lemah, Kata-kata buruk muncul sebagai perisai, meski seringkali salah sasaran. Atau mungkin… hanya karena kita terbiasa. Terbiasa mendengar kata buruk, terbiasa menyimpannya dalam hati, hingga tanpa sadar, kita mewariskannya pada orang lain. Begitu juga dengan prasangka. Ada banyak pikiran baik yang bisa kita pilih untuk menenangkan hati, Namun kenapa kita selalu lebih dulu berburuk sangka? Apakah hati manusia memang lebih nyaman di wilayah kecurigaan ...