Pernahkah kamu kembali ke tempat yang dulu begitu hidup, tapi kini hanya menyisakan gema langkahmu sendiri?
Aku pernah. Dan rasanya… aneh. Bukan sekadar sepi, tapi sepi yang “bercerita”.
Itulah kenopsia, kesunyian di tempat yang biasanya ramai, yang terasa lebih lantang daripada keramaian itu sendiri.
Dulu, ruang itu penuh tawa.
Sekarang, hanya ada gema.
Dulu, bangku-bangku itu ditempati orang-orang yang saling berbagi cerita, ambisi, dan mungkin juga cinta diam-diam.
Sekarang, mereka tinggal sebagai bayang-bayang yang tak kasat mata, tapi entah kenapa terasa dekat.
Kami menyebutnya associative memory , kenangan yang melekat pada tempat. Otak kita menghubungkan ruang fisik dengan emosi tertentu. Itulah mengapa saat kita kembali ke tempat yang dulu kita cintai, otak dan hati seperti menabrak kenyataan bahwa waktu telah berlalu.
Aku duduk sebentar, memandangi ruang kosong itu.
Bukan karena aku ingin kembali ke masa lalu tapi karena bagian dari diriku masih tertinggal di sana.
Mungkin itu disebut emotional residue, sisa emosi yang menempel pada ruang, seperti aroma kopi yang masih terasa meski cangkirnya sudah kosong.
Dan aku sadar: tempat ini tidak berubah. Akulah yang berubah.
Atau mungkin… kami sama-sama berubah, dan mencoba menerima satu sama lain dalam versi yang baru.
Kenopsia mengajarkanku bahwa bukan tempat yang membuat segalanya hidup, tapi hubungan yang kita bangun di dalamnya. Dan saat semuanya hilang, yang tersisa hanyalah sunyi yang lembut… dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Komentar
Posting Komentar