Seutas kalimat yang lewat di media sosialku dan akhir-akhir ini terus berputar di kepalaku:
Alasan kamu menginginkan sesuatu karena dimasa depan kamu sudah memilikinya
Awalnya, kalimat itu terdengar seperti kata-kata manis yang menenangkan hati.Namun semakin kupikirkan, ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya, semacam percakapan lembut antara logika dan jiwa.
Dalam banyak ajaran spiritual, manusia dan semesta dipercaya saling terhubung lewat energi.
Setiap keinginan bukanlah kebetulan, tapi panggilan dari masa depan, dari versi dirimu yang sudah hidup di realitas itu.
Mungkin itu sebabnya kadang kita menginginkan sesuatu begitu kuat tanpa alasan logis.
Seolah hati kita sudah tahu, “di sana aku akan sampai.”
Dalam Islam, aku jadi teringat tentang konsep qadar, tentang segala hal yang sudah tertulis sejak awal.
Mungkin, rasa ingin itu adalah cara halus semesta menuntun kita menuju sesuatu yang memang sudah menjadi bagian dari takdir.
Bukan kebetulan, tapi isyarat lembut yang menunggu untuk disadari.
Kalau dilihat dari sisi psikologi, aku teringat teori aktualisasi diri dari Abraham Maslow.
Keinginan sering kali adalah cerminan potensi yang sudah ada dalam diri, sesuatu yang ingin tumbuh dan diwujudkan.
Kita tidak akan sungguh-sungguh menginginkan sesuatu yang sama sekali asing bagi jiwa kita.
Karena di dalam diri, sudah tersimpan kemampuan dan potensi untuk mencapainya.
Otak manusia juga punya kemampuan ajaib yang disebut “mental time travel”
Yaitu kemampuan untuk membayangkan masa depan seolah-olah sudah terjadi.
Ketika kita membayangkan sesuatu yang sangat kita inginkan, tubuh dan pikiran bereaksi seakan itu nyata.
Dan di sanalah dorongan muncul yaitu keinginan untuk membuat masa depan yang sudah terlihat itu menjadi kenyataan.
Mungkin benar, keinginan bukan tanda kekurangan, tapi tanda pengingat. Pengingat bahwa di suatu garis waktu, versi terbaik dari diri kita sudah memeluk hal itu dengan tenang.
Tugas kita sekarang hanyalah melangkah ke arahnya. dengan sabar, percaya, dan tetap lembut pada diri sendiri di sepanjang perjalanan.
Karena mungkin, tidak ada keinginan yang benar-benar datang dari kekosongan.
Semua berawal dari sesuatu yang sudah kita miliki. hanya saja, kita sedang dalam proses mengingatnya kembali.
Komentar
Posting Komentar