Langsung ke konten utama

Kenapa Aku Lebih Enjoy Berbincang dengan Orang Tak Dikenal?

Lucu, ya. Kadang aku merasa lebih nyaman bercerita pada orang yang bahkan tak tahu namaku. Lebih enjoy ngobrol dengan seseorang yang kutemui di perjalanan, di antrean, atau di tempat asing yang tak pernah kupijak sebelumnya.

Padahal, aku punya orang-orang terdekat. Keluarga, sahabat, orang yang selalu ada dalam hidupku. Tapi kenapa justru dengan mereka, aku sering menahan cerita?

Mungkin karena orang asing tidak memiliki ekspektasi tentang siapa aku. Mereka tak tahu bagaimana aku di rumah, bagaimana sikapku sehari-hari, atau bagaimana aku menahan tangis diam-diam. Dengan mereka, aku bisa bercerita tanpa takut dinilai sebagai pribadi lemah atau aneh. Tanpa takut mereka mengaitkan ceritaku dengan sifatku yang lain. Rasanya aman.

Aku juga tidak perlu takut membebani mereka. Karena aku tahu, setelah perbincangan ini, mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Tidak ada rasa bersalah karena sudah menumpahkan beban hati pada seseorang yang harus melihatku setiap hari.

Kata psikologi, ini disebut self-disclosure to strangers. Mengungkapkan isi hati pada orang asing bisa membantu kita merasa lega. Tidak ada risiko hubungan berubah. Tidak ada rasa takut kehilangan. Tidak ada apa-apa yang perlu dijaga.

Hanya dua orang di semesta yang kebetulan bertemu dan berbagi cerita. Lalu, saat pertemuan itu usai, masing-masing kembali menjadi orang asing lagi. Tapi entah kenapa, justru pada orang-orang seperti itu, aku sering merasa… benar-benar didengar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur Tanpa Membandingkan: Menemukan Nikmat Li Dzhatihi

Kadang aku suka mikir, “Apa cara bersyukur itu harus selalu dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain yang lebih susah?” 🤔 Jawabanku: nggak juga. Dalam psikologi sosial, memang ada konsep yang namanya downward comparison . Artinya, kita merasa lebih beruntung atau lebih baik ketika melihat orang lain yang keadaannya lebih sulit. Secara nggak sadar, itu bikin hati agak lega dan jadi lebih menghargai hidup. Tapi kalau dipikir lagi, kalau syukur kita selalu bergantung pada penderitaan orang lain, rasanya kurang tulus ya. Dalam Islam, ada istilah Li dzhatihi. artinya bersyukur karena nikmat itu sendiri, bukan karena perbandingan. Misalnya, bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi, karena masih punya tenaga buat bangun, atau sekadar bisa menikmati secangkir teh hangat. Jalaluddin Rumi pernah bilang, “ Wear gratitude like a cloak and it will feed every corner of your life.” Jadi, buatku, bersyukur itu lebih indah kalau datang dari kesadaran sendiri, tanpa harus melihat siap...

helper therapy principle : Aku pulih dalam proses pulihmu

Menyembuhkan Diri Sendiri Melalui Menyembuhkan Orang Lain Ada masa ketika aku merasa begitu kosong. Luka masa lalu masih terasa nyeri, dan pertanyaan-pertanyaan tentang arah hidup terus berdengung di kepala. Tapi anehnya, di tengah ketidakpastian itu, aku justru sering dimintai bantuan oleh orang lain, entah sekadar mendengarkan, memberi saran, atau jadi tempat berkeluh kesah. Lama-lama aku sadar: setiap kali aku membantu orang lain, ada bagian dari diriku yang juga ikut pulih. Dalam psikologi, hal ini dikenal dengan istilah “helper therapy principle” sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Frank Riessman. Teori ini menyatakan bahwa orang yang membantu orang lain juga mendapatkan manfaat psikologis dari proses itu sendiri. Membantu bisa memberi kita rasa bermakna, meningkatkan harga diri, dan memperkuat koneksi sosial yang sering kali justru menjadi sumber kekuatan baru. Lebih dari itu, ketika kita menenangkan orang lain yang mengalami luka serupa dengan kita, secara tak langsung kita se...

Tertinggal dalam Keramaian

Jadi apa yang terjadi sekarang? Semua orang tampak memiliki tujuan, semua orang tampak berjalan, semua orang memenangkan banyak hal. aku terdiam, sendirian Katanya, semua orang memiliki waktunya sendiri, jadi kapan waktu untukku tiba? Pintunya tertutup lagi… Lagi dan lagi…