Lucu, ya. Kadang aku merasa lebih nyaman bercerita pada orang yang bahkan tak tahu namaku. Lebih enjoy ngobrol dengan seseorang yang kutemui di perjalanan, di antrean, atau di tempat asing yang tak pernah kupijak sebelumnya.
Padahal, aku punya orang-orang terdekat. Keluarga, sahabat, orang yang selalu ada dalam hidupku. Tapi kenapa justru dengan mereka, aku sering menahan cerita?
Mungkin karena orang asing tidak memiliki ekspektasi tentang siapa aku. Mereka tak tahu bagaimana aku di rumah, bagaimana sikapku sehari-hari, atau bagaimana aku menahan tangis diam-diam. Dengan mereka, aku bisa bercerita tanpa takut dinilai sebagai pribadi lemah atau aneh. Tanpa takut mereka mengaitkan ceritaku dengan sifatku yang lain. Rasanya aman.
Aku juga tidak perlu takut membebani mereka. Karena aku tahu, setelah perbincangan ini, mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Tidak ada rasa bersalah karena sudah menumpahkan beban hati pada seseorang yang harus melihatku setiap hari.
Kata psikologi, ini disebut self-disclosure to strangers. Mengungkapkan isi hati pada orang asing bisa membantu kita merasa lega. Tidak ada risiko hubungan berubah. Tidak ada rasa takut kehilangan. Tidak ada apa-apa yang perlu dijaga.
Hanya dua orang di semesta yang kebetulan bertemu dan berbagi cerita. Lalu, saat pertemuan itu usai, masing-masing kembali menjadi orang asing lagi. Tapi entah kenapa, justru pada orang-orang seperti itu, aku sering merasa… benar-benar didengar.
Komentar
Posting Komentar