Langsung ke konten utama

Dari Segala Hal yang Aku Sayangi, Kenapa Aku Tak Menyayangi Diriku Sendiri?

Dari kecil, aku diajari mencintai.

Mencintai keluarga. Mencintai sahabat. Mencintai Tuhan.

Bahkan mencintai hal-hal kecil seperti binatang peliharaan, langit sore, atau bunga liar di pinggir jalan.

Tapi tidak pernah ada satu bab pun dalam hidupku yang mengajarkan:

bagaimana cara mencintai diri sendiri.

Aku tumbuh dengan standar yang tidak pernah bisa kuraih. Harus menjadi yang baik, yang manis, yang bisa diandalkan. Harus kuat, tidak boleh marah, apalagi menangis di depan orang lain. Maka setiap kali aku merasa lelah, kecewa, atau sedih… aku menyembunyikannya. Kadang bahkan dari diriku sendiri.


Aku begitu mudah berempati pada orang lain. Aku bisa menangis mendengar cerita orang yang bahkan tak kukenal. Aku bisa bersedia begadang hanya untuk mendengarkan teman bicara tentang luka hatinya. Tapi saat aku sendiri merasa kosong, aku malah menyuruh diriku diam. “Diamlah, yang kau rasakan bukan apa-apa ” kataku pada diri sendiri.

Dan hari ini, aku duduk dan bertanya:

Dari segala hal yang aku sayangi, kenapa aku tak menyayangi diriku sendiri?

Apakah karena aku merasa tidak cukup layak?

Atau karena aku terlalu sibuk membuktikan sesuatu, sampai lupa bahwa aku juga manusia yang butuh pelukan, pengertian, dan pengampunan dari diri sendiri?

Sebagai seseorang yang sedikit banyak paham psikologi, aku tahu: self-compassion itu penting. Tapi nyatanya, teori tak selalu mudah dijadikan praktik. Karena yang sedang kulawan adalah suara-suara dari masa lalu yang bilang bahwa mencintai diri sendiri itu egois, bahwa menangis itu kelemahan, bahwa diriku hanya pantas dicintai kalau aku “berhasil.”

Malam-malam terasa sepi meski aku tak sendiri.

Ada rasa asing dalam dada yang tak bisa dijelaskan.

Seperti rumah yang lampunya menyala, tapi pintunya selalu tertutup untukku.

Mungkin sekarang waktunya aku belajar.

Pelan-pelan. Tidak apa-apa jika aku belum bisa sepenuhnya menyayangi diriku hari ini.

Tapi aku ingin mulai.

Mulai dengan mengucap:

“Hari ini kamu cukup.”

“Kamu boleh istirahat.”

“Kamu berhak merasa sedih.”

“Kamu tetap layak dicintai, bahkan saat kamu tidak sempurna.”

Untuk pertama kalinya, aku ingin menempatkan diriku sendiri…

…di daftar hal-hal yang paling ingin aku sayangi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur Tanpa Membandingkan: Menemukan Nikmat Li Dzhatihi

Kadang aku suka mikir, “Apa cara bersyukur itu harus selalu dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain yang lebih susah?” 🤔 Jawabanku: nggak juga. Dalam psikologi sosial, memang ada konsep yang namanya downward comparison . Artinya, kita merasa lebih beruntung atau lebih baik ketika melihat orang lain yang keadaannya lebih sulit. Secara nggak sadar, itu bikin hati agak lega dan jadi lebih menghargai hidup. Tapi kalau dipikir lagi, kalau syukur kita selalu bergantung pada penderitaan orang lain, rasanya kurang tulus ya. Dalam Islam, ada istilah Li dzhatihi. artinya bersyukur karena nikmat itu sendiri, bukan karena perbandingan. Misalnya, bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi, karena masih punya tenaga buat bangun, atau sekadar bisa menikmati secangkir teh hangat. Jalaluddin Rumi pernah bilang, “ Wear gratitude like a cloak and it will feed every corner of your life.” Jadi, buatku, bersyukur itu lebih indah kalau datang dari kesadaran sendiri, tanpa harus melihat siap...

helper therapy principle : Aku pulih dalam proses pulihmu

Menyembuhkan Diri Sendiri Melalui Menyembuhkan Orang Lain Ada masa ketika aku merasa begitu kosong. Luka masa lalu masih terasa nyeri, dan pertanyaan-pertanyaan tentang arah hidup terus berdengung di kepala. Tapi anehnya, di tengah ketidakpastian itu, aku justru sering dimintai bantuan oleh orang lain, entah sekadar mendengarkan, memberi saran, atau jadi tempat berkeluh kesah. Lama-lama aku sadar: setiap kali aku membantu orang lain, ada bagian dari diriku yang juga ikut pulih. Dalam psikologi, hal ini dikenal dengan istilah “helper therapy principle” sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Frank Riessman. Teori ini menyatakan bahwa orang yang membantu orang lain juga mendapatkan manfaat psikologis dari proses itu sendiri. Membantu bisa memberi kita rasa bermakna, meningkatkan harga diri, dan memperkuat koneksi sosial yang sering kali justru menjadi sumber kekuatan baru. Lebih dari itu, ketika kita menenangkan orang lain yang mengalami luka serupa dengan kita, secara tak langsung kita se...

Tertinggal dalam Keramaian

Jadi apa yang terjadi sekarang? Semua orang tampak memiliki tujuan, semua orang tampak berjalan, semua orang memenangkan banyak hal. aku terdiam, sendirian Katanya, semua orang memiliki waktunya sendiri, jadi kapan waktu untukku tiba? Pintunya tertutup lagi… Lagi dan lagi…