Ada kalanya kita lupa… bahwa yang kita jalani hari ini bukan beban pertama yang terasa terlalu berat. Bahwa sebelumnya pun ada malam-malam panjang yang penuh kecemasan, pagi yang terasa sesak tanpa alasan jelas, dan hari-hari di mana kita hanya bisa diam sambil menahan air mata agar tidak tumpah di depan siapa pun.
Tapi anehnya, kita sampai juga di sini.
Masih bisa bernapas.
Masih bisa berjalan, walau terseok.
Pernyataan “yang kemarin juga berat, tapi selesai juga kan?” bukan sekadar kalimat penghibur. Itu adalah bentuk nyata dari coping mechanism kita, cara otak dan hati menyesuaikan diri dengan tekanan. Kadang kita tidak sadar sedang berjuang, padahal tubuh dan pikiran kita sedang melakukan resilience terbaiknya.
Setiap luka emosional yang kita lewati menyisakan bekas, tapi juga membentuk emotional endurance atau ketahanan batin. Mungkin tidak selalu terlihat dari luar, tapi secara internal, kita tumbuh. Kita belajar distress tolerance, bahkan saat kita merasa ingin menyerah.
Kadang kita tidak butuh motivasi berlebihan. Kita hanya butuh diingatkan, bahwa ini bukan pertama kalinya hidup terasa melelahkan. Dan toh, waktu itu pun kita bisa bertahan. Mungkin dengan air mata. Mungkin dengan tidur panjang. Mungkin dengan menghindar dulu sebentar. Tapi tetap… selesai.
Jika kamu sedang merasa tidak baik-baik saja, tidak apa-apa. Acknowledging the pain adalah langkah penting dalam emotional awareness. Mengaku pada diri sendiri bahwa ini berat, justru membuat kita lebih manusiawi.
Komentar
Posting Komentar