Aku tumbuh di tengah keheningan.
Bukan keheningan yang tenang, tapi yang penuh tanda tanya. Bukan keheningan yang nyaman, tapi yang membuat dada terasa sesak—seperti ada kata-kata yang menggantung di udara, tapi tak pernah benar-benar diucapkan.
Di keluargaku, diam seringkali lebih nyaring daripada teriakan.Kami tidak belajar cara menyelesaikan konflik, kami belajar bagaimana caranya saling menghindar. Jika ada yang marah, satu-satunya respons adalah… tidak ada. Hening. Seakan suara hati harus disembunyikan karena dianggap mengganggu. Seakan perasaan tidak pantas dibicarakan.Dan begitulah, aku belajar untuk menahan.
Menahan tangis, menahan amarah, menahan kecewa, bahkan menahan rindu. Aku tumbuh dengan penuh pertanyaan: “Apa aku salah?”, “Kenapa mereka berubah dingin?”, “Apa aku layak dicintai kalau aku jujur?”
Anehnya, dari semua diam itu, aku justru belajar banyak hal.
Aku belajar membaca bahasa tubuh lebih peka dari orang lain. Aku belajar mengenali tanda-tanda ketika seseorang akan menarik diri. Aku belajar menenangkan orang lain, meski sering kali lupa menenangkan diri sendiri.
Tapi aku juga belajar untuk takut menyuarakan isi hati.
Aku jadi pandai pura-pura tidak apa-apa. Pandai tersenyum sambil luka di dalam tak berhenti berdarah.
Sekarang, di usia ini, aku sedang belajar kembali.
Belajar bahwa marah itu boleh. Kecewa itu wajar. Bicara itu sehat. Bahwa diam tak selalu elegan, kadang justru membunuh pelan-pelan.
Aku mulai memahami: aku bukan suara yang terlalu sensitif. Aku hanyalah seseorang yang sedang menyembuhkan dirinya dari keheningan yang dulu memenjarakan.
Dan kamu tahu? Tidak apa-apa kalau kita sedang belajar.
Tidak apa-apa jika kamu juga berasal dari keluarga yang penuh diam. Karena hari ini, kita bisa memilih untuk bicara.
Meskipun dengan suara kecil. Meskipun dengan air mata.
Setidaknya kita tidak diam lagi.
Komentar
Posting Komentar