Langsung ke konten utama

Silent Treatment Family : Luka yang Tak Terdengar

Aku tumbuh di tengah keheningan.

Bukan keheningan yang tenang, tapi yang penuh tanda tanya. Bukan keheningan yang nyaman, tapi yang membuat dada terasa sesak—seperti ada kata-kata yang menggantung di udara, tapi tak pernah benar-benar diucapkan.

Di keluargaku, diam seringkali lebih nyaring daripada teriakan.Kami tidak belajar cara menyelesaikan konflik, kami belajar bagaimana caranya saling menghindar. Jika ada yang marah, satu-satunya respons adalah… tidak ada. Hening. Seakan suara hati harus disembunyikan karena dianggap mengganggu. Seakan perasaan tidak pantas dibicarakan.Dan begitulah, aku belajar untuk menahan.

Menahan tangis, menahan amarah, menahan kecewa, bahkan menahan rindu. Aku tumbuh dengan penuh pertanyaan: “Apa aku salah?”, “Kenapa mereka berubah dingin?”, “Apa aku layak dicintai kalau aku jujur?”

Diam yang Mengajari Banyak Hal

Anehnya, dari semua diam itu, aku justru belajar banyak hal.

Aku belajar membaca bahasa tubuh lebih peka dari orang lain. Aku belajar mengenali tanda-tanda ketika seseorang akan menarik diri. Aku belajar menenangkan orang lain, meski sering kali lupa menenangkan diri sendiri.

Tapi aku juga belajar untuk takut menyuarakan isi hati.

Aku jadi pandai pura-pura tidak apa-apa. Pandai tersenyum sambil luka di dalam tak berhenti berdarah.

Kini Aku Sedang Belajar Bicara

Sekarang, di usia ini, aku sedang belajar kembali.

Belajar bahwa marah itu boleh. Kecewa itu wajar. Bicara itu sehat. Bahwa diam tak selalu elegan, kadang justru membunuh pelan-pelan.

Aku mulai memahami: aku bukan suara yang terlalu sensitif. Aku hanyalah seseorang yang sedang menyembuhkan dirinya dari keheningan yang dulu memenjarakan.

Dan kamu tahu? Tidak apa-apa kalau kita sedang belajar.

Tidak apa-apa jika kamu juga berasal dari keluarga yang penuh diam. Karena hari ini, kita bisa memilih untuk bicara.

Meskipun dengan suara kecil. Meskipun dengan air mata.

Setidaknya kita tidak diam lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur Tanpa Membandingkan: Menemukan Nikmat Li Dzhatihi

Kadang aku suka mikir, “Apa cara bersyukur itu harus selalu dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain yang lebih susah?” 🤔 Jawabanku: nggak juga. Dalam psikologi sosial, memang ada konsep yang namanya downward comparison . Artinya, kita merasa lebih beruntung atau lebih baik ketika melihat orang lain yang keadaannya lebih sulit. Secara nggak sadar, itu bikin hati agak lega dan jadi lebih menghargai hidup. Tapi kalau dipikir lagi, kalau syukur kita selalu bergantung pada penderitaan orang lain, rasanya kurang tulus ya. Dalam Islam, ada istilah Li dzhatihi. artinya bersyukur karena nikmat itu sendiri, bukan karena perbandingan. Misalnya, bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi, karena masih punya tenaga buat bangun, atau sekadar bisa menikmati secangkir teh hangat. Jalaluddin Rumi pernah bilang, “ Wear gratitude like a cloak and it will feed every corner of your life.” Jadi, buatku, bersyukur itu lebih indah kalau datang dari kesadaran sendiri, tanpa harus melihat siap...

helper therapy principle : Aku pulih dalam proses pulihmu

Menyembuhkan Diri Sendiri Melalui Menyembuhkan Orang Lain Ada masa ketika aku merasa begitu kosong. Luka masa lalu masih terasa nyeri, dan pertanyaan-pertanyaan tentang arah hidup terus berdengung di kepala. Tapi anehnya, di tengah ketidakpastian itu, aku justru sering dimintai bantuan oleh orang lain, entah sekadar mendengarkan, memberi saran, atau jadi tempat berkeluh kesah. Lama-lama aku sadar: setiap kali aku membantu orang lain, ada bagian dari diriku yang juga ikut pulih. Dalam psikologi, hal ini dikenal dengan istilah “helper therapy principle” sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Frank Riessman. Teori ini menyatakan bahwa orang yang membantu orang lain juga mendapatkan manfaat psikologis dari proses itu sendiri. Membantu bisa memberi kita rasa bermakna, meningkatkan harga diri, dan memperkuat koneksi sosial yang sering kali justru menjadi sumber kekuatan baru. Lebih dari itu, ketika kita menenangkan orang lain yang mengalami luka serupa dengan kita, secara tak langsung kita se...

Tertinggal dalam Keramaian

Jadi apa yang terjadi sekarang? Semua orang tampak memiliki tujuan, semua orang tampak berjalan, semua orang memenangkan banyak hal. aku terdiam, sendirian Katanya, semua orang memiliki waktunya sendiri, jadi kapan waktu untukku tiba? Pintunya tertutup lagi… Lagi dan lagi…