Beberapa malam lalu, aku terbangun dari tidur dengan napas terengah dan perasaan yang sulit dijelaskan. Dadaku sesak, seperti habis berlari jauh, meski kenyataannya aku hanya berbaring di tempat tidur selama beberapa jam. Yang membangunkanku bukan suara gaduh, bukan pula suara alarm melainkan mimpi. Bukan mimpi tentang monster atau tempat gelap, tapi mimpi tentang… kehidupanku sendiri.
Dalam mimpi itu, aku kehilangan arah. Aku melihat versi diriku yang tak bisa melakukan apa-apa, yang diam dalam kerumunan, yang dicintai tapi tak bisa mencintai balik, yang berhasil secara materi tapi hampa secara batin. Rasanya nyata, terlalu nyata. Sampai aku bangun, butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa semua itu hanya mimpi.
Tapi benarkah itu hanya mimpi?
Sebagai seseorang yang tertarik dengan dunia psikologi, aku tahu mimpi bukan sekadar bunga tidur. Banyak teori yang menyebutkan bahwa mimpi adalah hasil kerja pikiran bawah sadar kita. Pikiran-pikiran yang tak selesai, ketakutan yang tak sempat diucap, atau harapan yang kita kubur dalam-dalam semuanya bisa muncul dalam bentuk mimpi. Kadang dalam bentuk simbol, kadang dalam bentuk kejadian yang terasa terlalu akurat sampai membuatmu terbangun dengan keringat dingin.
Aku pernah membaca, mimpi buruk tentang kehidupan tentang gagal, tentang kehilangan, tentang tak bisa menyelamatkan diri sendiri sering kali muncul ketika kita sedang menyimpan tekanan yang kita anggap kecil, tapi ternyata menumpuk. Mungkin dari ekspektasi yang terlalu tinggi, rasa takut mengecewakan orang lain, atau hanya karena terlalu lama menahan tangis.
Mimpi itu jadi pengingat. Bahwa meski kita terlihat baik-baik saja di luar, kadang pikiran kita menyimpan hal-hal yang belum tuntas. Dan saat tidur, saat tubuh kita istirahat, pikiran itu justru bekerja.
Pagi itu aku bangun dalam keadaan lebih tenang, meski sedikit terguncang. Aku menulis mimpiku di notes ponsel, bukan karena aku ingin mengabadikannya, tapi karena aku ingin mengenal diriku sendiri sedikit lebih dalam. Kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban dari orang lain, tapi keberanian untuk duduk diam dan bertanya:
“Sebenarnya, apa yang sedang kamu takuti saat ini?”
Dan mungkin, pelan-pelan, lewat mimpi dan rasa yang tertinggal, kita bisa mulai menjawabnya.
Komentar
Posting Komentar