Langsung ke konten utama

Kadang, Membaca Orang Lain Lebih Mudah Daripada Membaca Diri Sendiri

Akhir-akhir ini aku sering mikir… kenapa ya, rasanya lebih gampang memahami orang lain daripada memahami diri sendiri?

Aku bisa tahu ketika seseorang sedang berpura-pura bahagia, ketika seseorang mulai menarik diri, atau bahkan saat seseorang menyimpan sesuatu tapi nggak ngomong. Tapi giliran diriku sendiri? Aku malah bingung. Sedih tapi nggak tahu kenapa. Marah tapi nggak bisa menjelaskan. Lelah tapi tetap memaksa jalan terus.

Lucu ya. Aku hidup dengan diriku sendiri seumur hidup. Tapi kenapa aku malah kesulitan untuk benar-benar mengerti isi hati dan pikiranku sendiri?

Terlalu Dekat, Jadi Kabur

Mungkin karena aku terlalu dekat. Seperti mencoba membaca tulisan yang terlalu dekat di depan mata malah buram. Kita butuh jarak untuk bisa melihat sesuatu dengan jelas. Dan terhadap orang lain, aku punya jarak itu. Tapi terhadap diri sendiri? Kadang semuanya terlalu riuh. Terlalu bercampur.

Ada Bagian dari Diri yang Takut Dilihat

Jujur aja, kadang aku juga takut. Takut kalau ternyata apa yang ku temukan di dalam diri itu nggak seindah yang kuharapkan. Takut kalau harus mengakui bahwa aku belum sekuat yang kubilang, atau masih menyimpan luka yang belum selesai. Jadi ya… aku menghindar. Sibuk baca orang lain, tapi lupa membaca diriku sendiri.

Tapi Aku Sedang Belajar

Aku sedang belajar pelan-pelan. Untuk duduk diam dan mendengarkan diriku sendiri. Untuk jujur, bahkan kalau itu berarti harus menangis. Untuk mengakui bahwa aku juga manusia yang bisa salah, bingung, bahkan nggak tahu harus ke mana.

Dan aku mulai sadar, mengenali diri sendiri itu bukan tugas yang selesai dalam sehari. Tapi proses panjang yang akan terus berjalan dan itu nggak apa-apa.

Hari ini aku cuma ingin mengingatkan diriku sendiri:

Kamu nggak harus selalu paham semuanya sekarang. Yang penting, kamu tetap mau belajar mengenal dirimu sendiri… tanpa terburu-buru, tanpa memaksa, dan tanpa lupa memeluk diri sendiri di tengah prosesnya.

Kalau kamu juga pernah merasa seperti ini, tahu kok rasanya. Nggak sendirian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur Tanpa Membandingkan: Menemukan Nikmat Li Dzhatihi

Kadang aku suka mikir, “Apa cara bersyukur itu harus selalu dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain yang lebih susah?” 🤔 Jawabanku: nggak juga. Dalam psikologi sosial, memang ada konsep yang namanya downward comparison . Artinya, kita merasa lebih beruntung atau lebih baik ketika melihat orang lain yang keadaannya lebih sulit. Secara nggak sadar, itu bikin hati agak lega dan jadi lebih menghargai hidup. Tapi kalau dipikir lagi, kalau syukur kita selalu bergantung pada penderitaan orang lain, rasanya kurang tulus ya. Dalam Islam, ada istilah Li dzhatihi. artinya bersyukur karena nikmat itu sendiri, bukan karena perbandingan. Misalnya, bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi, karena masih punya tenaga buat bangun, atau sekadar bisa menikmati secangkir teh hangat. Jalaluddin Rumi pernah bilang, “ Wear gratitude like a cloak and it will feed every corner of your life.” Jadi, buatku, bersyukur itu lebih indah kalau datang dari kesadaran sendiri, tanpa harus melihat siap...

helper therapy principle : Aku pulih dalam proses pulihmu

Menyembuhkan Diri Sendiri Melalui Menyembuhkan Orang Lain Ada masa ketika aku merasa begitu kosong. Luka masa lalu masih terasa nyeri, dan pertanyaan-pertanyaan tentang arah hidup terus berdengung di kepala. Tapi anehnya, di tengah ketidakpastian itu, aku justru sering dimintai bantuan oleh orang lain, entah sekadar mendengarkan, memberi saran, atau jadi tempat berkeluh kesah. Lama-lama aku sadar: setiap kali aku membantu orang lain, ada bagian dari diriku yang juga ikut pulih. Dalam psikologi, hal ini dikenal dengan istilah “helper therapy principle” sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Frank Riessman. Teori ini menyatakan bahwa orang yang membantu orang lain juga mendapatkan manfaat psikologis dari proses itu sendiri. Membantu bisa memberi kita rasa bermakna, meningkatkan harga diri, dan memperkuat koneksi sosial yang sering kali justru menjadi sumber kekuatan baru. Lebih dari itu, ketika kita menenangkan orang lain yang mengalami luka serupa dengan kita, secara tak langsung kita se...

Tertinggal dalam Keramaian

Jadi apa yang terjadi sekarang? Semua orang tampak memiliki tujuan, semua orang tampak berjalan, semua orang memenangkan banyak hal. aku terdiam, sendirian Katanya, semua orang memiliki waktunya sendiri, jadi kapan waktu untukku tiba? Pintunya tertutup lagi… Lagi dan lagi…