Langsung ke konten utama

Being infp In this noisy world🤯

Dunia ini terlalu berisik untukku

INFP can relate, right? Kadang merasa seperti manusia aneh di antara orang-orang normal. Atau mungkin seperti musik lembut di tengah konser rock.

Kami sebenarnya tidak membenci bersosialisasi, malah sebaliknya kepekaan kami terhadap sekitar jauh lebih tinggi. Mungkin karena mulut kami terlalu diam jadi indra yang lain bekerja dua kali lipat.

Mata kami bisa mendeteksi banyak hal, begitupun dengan pendengaran. Fakta dari senyap nya kami ada sesuatu yang jauh lebih berisik di kepala. “Ah, dia memalingkan wajah, apakah dia tidak tertarik?” “dia terus menghela nafas, apa karena terlalu membosankan?” “Dia terus cemberut, apakah dia tidak menyukai jawabanku?” “Senangnya, dia mencondongkan tubuhnya, dia excited dengan ceritaku” “kalau aku ngomong begini, bisa bikin dia sakit hati gak ya?” Dan banyak lagi diskusi dengan diri sendiri di kepala sebelum satu kalimat terlontarkan.

Tapi ada kalanya dunia terasa terlalu ramai dan bising. Jadi kami memilih menyendiri, bukan berarti kami melarikan diri tapi itu merupakan jalan kami pulang ke diri sendiri. Dunia luar tidak boleh memadamkan suara hati kami.

Tetap menjadi lembut di dunia yang kasar. Tetap menjadi tempat yang nyaman untuk diri sendiri disaat banyaknya orang yang mencari kedamaian untuk diri sendiri.

Kita sudah melalui hari ini dengan baik, mari lakukan yang lebih baik di esok hari.

Hari kemarin telah berlalu, hari esok belum tiba dan hari ini belum pasti.

hidup lebih lama ya☺️



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur Tanpa Membandingkan: Menemukan Nikmat Li Dzhatihi

Kadang aku suka mikir, “Apa cara bersyukur itu harus selalu dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain yang lebih susah?” 🤔 Jawabanku: nggak juga. Dalam psikologi sosial, memang ada konsep yang namanya downward comparison . Artinya, kita merasa lebih beruntung atau lebih baik ketika melihat orang lain yang keadaannya lebih sulit. Secara nggak sadar, itu bikin hati agak lega dan jadi lebih menghargai hidup. Tapi kalau dipikir lagi, kalau syukur kita selalu bergantung pada penderitaan orang lain, rasanya kurang tulus ya. Dalam Islam, ada istilah Li dzhatihi. artinya bersyukur karena nikmat itu sendiri, bukan karena perbandingan. Misalnya, bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi, karena masih punya tenaga buat bangun, atau sekadar bisa menikmati secangkir teh hangat. Jalaluddin Rumi pernah bilang, “ Wear gratitude like a cloak and it will feed every corner of your life.” Jadi, buatku, bersyukur itu lebih indah kalau datang dari kesadaran sendiri, tanpa harus melihat siap...

helper therapy principle : Aku pulih dalam proses pulihmu

Menyembuhkan Diri Sendiri Melalui Menyembuhkan Orang Lain Ada masa ketika aku merasa begitu kosong. Luka masa lalu masih terasa nyeri, dan pertanyaan-pertanyaan tentang arah hidup terus berdengung di kepala. Tapi anehnya, di tengah ketidakpastian itu, aku justru sering dimintai bantuan oleh orang lain, entah sekadar mendengarkan, memberi saran, atau jadi tempat berkeluh kesah. Lama-lama aku sadar: setiap kali aku membantu orang lain, ada bagian dari diriku yang juga ikut pulih. Dalam psikologi, hal ini dikenal dengan istilah “helper therapy principle” sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Frank Riessman. Teori ini menyatakan bahwa orang yang membantu orang lain juga mendapatkan manfaat psikologis dari proses itu sendiri. Membantu bisa memberi kita rasa bermakna, meningkatkan harga diri, dan memperkuat koneksi sosial yang sering kali justru menjadi sumber kekuatan baru. Lebih dari itu, ketika kita menenangkan orang lain yang mengalami luka serupa dengan kita, secara tak langsung kita se...

Tertinggal dalam Keramaian

Jadi apa yang terjadi sekarang? Semua orang tampak memiliki tujuan, semua orang tampak berjalan, semua orang memenangkan banyak hal. aku terdiam, sendirian Katanya, semua orang memiliki waktunya sendiri, jadi kapan waktu untukku tiba? Pintunya tertutup lagi… Lagi dan lagi…